Gunungguruh.desa.id-Liweut menurut kamus bahasa daerah adalah memasak atau merebus nasi dalam panci atau kastrol.  Kata “Ngliweut” merupakan sebuah istilah yang digunakan oleh masyarakat desa diwaktu mereka berkumpul dalam suatu tempat sebari makan bersama dengan hidangan khas Ke-sunda-An. Tradisi ngaliweut sangat sakral keberadaannya bagi kehidupan masyarakat desa.

Di satu sisi dengan adanya kegiatan ngaliweut dapat mewujudkan rasa kebersamaan dan perekat diantara masyarakat, dan di sisi lain ngaliweut-pun merupakan sebuah wujud keharmonian yang terjalin di daam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Hal itu terjadi dalam kehidupan Pemerintah Desa Gunungguruh, dimana Ngaliweut menjadi Tradisi yang terbangun dalam keberlangsungan jalannya pemerintahan desa. Bu Tati Kusniawati selaku Kepala Desa selalu menginisiasi Kegiatan ini, baginya kegiatan ngaliweut bukan hanya kegiatan makan semata melainkan terjadinya proses harmonisasi antar Lembaga yang berada dibawah naungan Pemerintah Desa.

Dalam setiap Kegiatan Pemerintahan Desa seperti halnya pembangunan dan pemberdayaan yang dilangsungkan selalu diiringi dengan kegiatan ngaliweut. seperti halnya ngaliweut terjadi setelah kegiatan rapat Tim Perencanaan berlangsung yang di Pimpin oleh Bpk. Usep S (LPMD).

Menurut Kepala Desa Gunungguruh Bu Tati Kusniawati Tim Perencanaan merupakan ujung tombak dalam keberhasilan kegiatan pembangunan dan pemberdayaan Pemerintah Desa Gunungguruh. Tim 11 yang terdiri dari unsur BPD, LPMD, Perangkat Desa seringkali dinamakan sebagai Tim 11 karena beranggotakan sebanyak 11 orang. Tim Perencanaan bertugas untuk me-Review RMPJDES, menyusun RKPDES dan turut serta merumuskan APBDES. Tentunya kegiatan ini sangat menentukan arah penggunaan anggaran Dana Desa Pada tahun berqikutnya, sehingga Tim 11 sangat serius dalam melaksanakannya.

Di Tengah-tengah perjalanan kegiatan tentunya pola diskusi bahkan debat-pun dilakukan, guna terwujudnya sebuah rumusan yang sesuai diharapkan oleh masyarakat. Tim 11 dalam menentukan kebijakan tentunya sesuai dengan arahan dan petunjuk Konstitusi seperti, PERMENDES, PERBUB dan Pertimbangan Aspek Wilayah Desa itu sendiri. Maka tidak lepas Musyawarah dalam tim menjadi pondasi dalam mengambil sebuah keputusan. Tegas Bpk Usep S

Maka wajar setelah rapat dilakukan tentunya sangat menguras fikiran, tenaga serta waktu, “NgaLiweut” menjadi solusi bagi tim untuk tetap Fokus dan Mencairkan Suasana rapat. Berdasarkan sebuah Pepatah yang dilontarkan oleh salah satu anggota tim yakni “Logika Tanpa Logistik sama dengan Logay”, Ungkapnya Pak Aceng Kurnia disertai tawa peserta rapat.

Dengan demikian Ngaliweut bukanlah sebuah kegiatan makan semata, lebih dari itu ia mengandung makna Tradisi serta Harmoni Masyarakat Desa. “Moch. Caesar Maulana-Red”

Bagikan Berita